Aceh sudah dikenal hampir keseluruh pelosok negeri, tidak hanya dikenal oleh negara-negara islam saat itu, seperti Turki, Arab Saudi, dan lainnya. Namun dinegara non muslim jugalah demikian, kita bisa lihat sejarah dimana Belanda, Inggris, Portugis, dan wilayah Eropa lainnya yang pernah menjajah aceh termasuk catatan sejarha yang membuktikan bahwa Aceh sudah dikenal hampir keseluruh dunia. Masa kerajaan dahulu, dimana menurut para ahli sejarawan mengatakan bahw hubungan dagang antara Aceh dengan negri luar sangatlah erat. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa dahulu sebelum hadirnya Amerika dan Portugis menjadi negeri penjajah kedua negri ini adalah negri sahabat bagi aceh. Namun karena masuknya pihak ke-3 yang tidak suka dengan jalur gemilang dagang ini terjadi maka mereka menciptakan politik pecah belah antar negara ini hingga terjadilah perang.
Namun, tahukah antum, bahwa jauh sebelumnya Aceh sudah dikenal di negeri timur seluruhnya, di masa Khalifah Umar bin Khattab pun Aceh sudah dikenal bahkan jauh lagi, yaitu pada masa Rasulullah Muhammad SAW. (baca artikel : Inilah Bukti Bahwa Rasulullah Pernah Menyebut Nama Aceh) . Selain itu, yang membuat Aceh lebih dikenal dinegri timur kala itu adalah kedatangan seorang ulama dan ahli Geografi Muslim dunia ke negeri Serambi Mekkah ini.
Ia adalah seorang yang bernama Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim At-Thanji, atau lebih terkenal dengan nama Ibnu Bathutah. Ia lahir di Tengger (Tanggier, Thanja-Maloki) di bibir Selat Giblatar, pada tahun 1304 M.
Ia adalah seorang yang bernama Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim At-Thanji, atau lebih terkenal dengan nama Ibnu Bathutah. Ia lahir di Tengger (Tanggier, Thanja-Maloki) di bibir Selat Giblatar, pada tahun 1304 M.
Dia seorang musafir
Islam yang dikenal banyak mengadakan perjalanan pada abad pertengahan. Tidak
kurang 30 tahun lamanya (tahun 1325) beliau mengadakan beberapa perjalanan yang
tercatat. Catatanya itu telah ditulisnya dalam bukunya yang berjudul “Tuhfatun
Nadh fii Gharabil Amshar” (Hasil pengamatan menjelajahi negri-negri asing).
Beliau meninggal pada usia 76 tahun (sekitar tahun 1380 M) dan bukunya
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Ibnu Batutah telah mulai berlayar sudah sangat lama, bahkan sebelum hadir seorang penjelajah italia Mrcopolo pada tahun 1324.
Dalam perjalanan
ke Tiongkok, Ibnu Bathutah 2 kali singgah di Indonesia, sekali ketika berangkat
dan sekali ketika pulang dari Tiongkok. Ketika singgah ke Indonesia, yakni di
kerajaan Pasai pada tahun 1345 M, ia sangat terkesan dan kagum menyaksikan
perkembangan Islam ke Pasai. Pada waktu kapal layarnya memasuki pelabuhan Aceh
dan setelah selesai diperiksan oleh pembesar pribumi ia diizinkan mendarat.
Sementara itu kedatangan Ibnu Bathutah telah diberitahukan kepada sultan.
Beliau dijemput ileh utusan sultan, qadhi dan ulama-ulama lain. Untuk
penjemputannya disediakan kuda khusus dari sultan.
Ibnu bathutah
sangat mengagumi Raja Pasai yang memerintah ketika itu, yakni Al-Malik
Az-Zahir, seorang raja yang sangat alim dan bermazhab Syafi’i. hingga Ibnu
Bathutah pernah menyampaikan kesannya, bahwa bila dibandingkan dengan raja-raja
Islam yang pernah ia kunjungi, baik di Hindustan, Turkistan dan Bukhara, bahkan
Mesir sekalipun, maka raja Jawa (yang dimaksud raja Pasai) adalah raja yang
paling alim dengan ilmunya yang sangat mendalam.
Ketika ibnu Bathutah singgah di kerajaan
Pasai, beliau laporkan sebagai berikut :
“Kemudian saya masuk menghadap sultan. Di samping baginda saya
bertemu Qadhi Amir Rasyid, sedangkan para penuntut ilmu ilmu duduk di sebelah
kanan dan kiri baginda. Saya dipersilahkan duduk duduk disebelah kirinya. Raja
menanyakan kepada saya tentang sultan Muhammad dan penjelasan saya, semuanya
saya jawab. Kemudian baginda pun meneruskan muzakarahnya tentang ilmu fikih
Mazhab Syafi’I sampai waktu ‘Ashar. Selesai salat ‘Ashar baginda pun masuk ke
sebelah rumah di situ, ditanggalkannya pakaian Fuqaha atau ahli Fiqih, yaitu
pakaian yang biasa dipakainya ke masjid pada hari Jum’at dengan berjalan kaki.
Kemudian dipakainya kembali pakaian resminya sebagai raja yang terbuat dari
sutra dan katun.
Ibnu Bathutah tidak menerangkan bahwa
selama pembicaraannya itu melalui penterjemah, seperti yang dilakukannya di
tempat-tempat lain ketika berbicara dengan seorang raja asing. Itu menjadi
suatu pertanda, bahwa sultan Malik Az-Zahir yang memerintah Pasai dewasa itu
fasih berbahasa Arab.
Sumber :
Buku Ayah Kami (Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly)
Ahli Geografi Muslim Dunia "Ibnu Batutah" Pernah Menulis Nama Aceh Dalam Kitab-Nya
Posted by SEJARAH ACEH on Thursday, March 2, 2017
Pada masa Sultan Zainal
Abidin Bahrain Syah berkuasa kira-kira
pada 797 H (1395 M), sultan dari kerajaan Islam Samudra Pasai itu, telah
mengirimkan serombongan mubaligh Islam di bawah pemimpin Malik Ibrahim, seorang
guru besar dari Perguruan Islam di Pasai, ke pulau Jawa, yakni Gresik (Jawa
Timur) dengan tujuan mengembangkan agama Islam di Jawa. Malik Ibrahim
mendirikan perguruan Tinggi Islam di Gresik dan Ampel. Beliau memulai dakwah
pengembangan Islam dan mendidik para santrinya menempuh sistem pondok
pesantren. Hingga dengan demikian guru besar ini dipandang sebagai Bapak
Pesantren di Jawa dan sekitarnya.
Adapun
guru pada perguruan atau pesantren yang beliau dirikan itu pada umumnya berasal
dari Pasai. Di antara guru-guru itu ada saudara muda Maulana Malik Ibrahim yang
bernama Maulana Ishaq, beliau juga menjadi ulama dan mubaligh Islam seperti
abangnya. Perlu kita catat bahwa Maulana Ishaq mempunyai beberapa orang anak,
diantaranya dua orang yang amat penting berhubungan dengan kedudukannya di
dalam walisanga (sembilan wali). Kedua orang putranya itu ialah Raden Paku atau
Sunan Giri yang bernama Syeikh ‘Ainul Yaqin, dan adiknya Sunan Gunung Jati yang
nama aslinya Syarif Hidayatullah. Dua orang wali ini bersaudara lain ibu. Sunan
Giri dari ibu salah seorang putri Adipati Blambangan, seorang pangeran
Majapahit. Sedangkan Sunan Gunung Jati dari ibu seorang putri keturunan
bangsawan Quraisy dari Makkah.
Sunan
Giri adalah murid dan menantu Sunan Ngampel atau Sunan Ampel yang nama kecilnya
adlaah Raden Rahmat. Beliau adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istri beliau
yang ibunya keturunan Arab di Campa (Kamboja). Diperkirakan bahwa beliau baru
menetap di Jawa pada tahun 1413 M, yakni kurang lebih 12 tahun setelah ayahnya
wafat, Maulana Malik Ibrahim. Melihat bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari
Pasai, maka Sunan Ampel adalah anak dari istri Maulana Malik Ibrahim pada waktu
beliau di Pasai. Jadi sunan Ampel dilahirkan di Aceh. Dan sebelumnya beliau ke
Jawa Timur dan menetap di Ampel, di kota Surabaya, beliau merantau ke Palembang
menemui bupati kerajaan Majapahit, bupati Arya Damar yang langsung
di-Islamkannya. Disamping itu pula karena ada kaitannya dengan Gresik sebagai
salah satu bandar perdagangan yang amat ramai di bawah kemakmuran kerajaan
Majapahit.
Sejak
kecil Sunan Ampel telah mewarisi kepemimpinan dari orang tuanya, Maulana Malik
Ibrahim. Setelah ayahnya wafat, para santri dari ayahandanya ini menyerahkan
kepemimpinan pesantren ke Sunan Ampel dan beliau telah berhasil menyebarkan
agama Islam dan menanamkan rasa simpati terhadap penguasa Majapahit pada khususnya
dan masyarakat pada umumnya, sehingga nama beliau harum sebagai pecinta
ketertiban dan kedamaian.
Sunan
Drajat yang bernama Raden Qasim, menurut riwayat lain adalah putra Sunan Ampel.
Abanya Sunan Bonang nama aslinya Maulana Ibrahim. Sebab Sunan Ampel telah
diambil menantu oleh Adipati Tuban (Raja Tuban), Ario Tejo, dan menjadi suami
Nyi Gede Manila atau Dewi Condrowati.
Sunan
Qudus yang dikenal dengan nama Raden Amir Haji dan dinamakan juga dengan Sy.
Ja’far Shiddiq adalah menantu Sunan Bonang dari putri beliau, Dewi Siti Rohil.
Karena hubungan Sunan Qudus yang begitu rapat dengan Sunan Bonang, maka ia
diambil menantu olehnya, dan ia murid pilihan beliau.
Sunan
Kalijaga yang bernama Raden Syahid adalah saudara kandung Nyi Gede Manila,
Istri Sunan Ampel. Maka hubungan ipar. Dengan demikian maka Adipati Wiwatikta
atau Tumenggung Ario Tejo, yakni ayah Sunan Kalijaga, yang menjadi penguasa
daerah pantai utara pulau Jawa sebelah timur di tuban itu, mempunyai anak
kandung serta menantu yang keduanya adalah waliyullah, pertalian keluarga
antara Sunan Kalijaga dengan Sunan Ampel lebih erat lagi karena Sunan Kalijaga
beristri Dewi Siti Sarah, saudara kandung Sunan Guru dan saudara lain ibu
dengan Sunan Gunung Jati, ketiganya putra dan putri dari Maulana Ishak adik
Maulana Malik Ibrahim ayah Sunan Ampel.
Sunan
Gunung Jati, yang ketika mudanya bernama Raden Abdul Qadir yang nama lainnya
ialah Syarif Hidayatullah, adalah putra Maulana Ishaq. Dengan demikian maka
beliau adalah adik Sunan Giri lain ibu, yakni putri keturunan Quraisy dari
Makkah.
Raden
Patah adalah seorang santri Sunan Ampel yang paling dekat. Ia lahir tahun 1455
M. Beliau adalah putra Sri Ketabumi, Raja Majapahit terkahir yang memerinta
antara tahun 1474-1478 M, saat paling penuh kemelut yang termashyur di Asia
Tenggara ini. Jadi beliau adalah seorang Pangeran Majapahit. Beliau memakai
gelar Al-Fatah Alamsyah Akbar, raja kerajaan Demak atau Bintoro sebagai suatu
kerajaan penerus Majapahit. Beliualah cikal bakal yang menururunkan raja-raja
di Jawa hingga sekarang yang memakai gelar Sultan atau Sunan. Meskipun tidak
masuk dalam walisanga beliau dianggap sebagai raja muslim saleh yang berjuan
untuk kepentingan Islam.
Sunan
Muria yang ketika mudanya dikenal dengan nama Raden Prawoto atau Raden Sa’id
bin Raden Syahid, beristri Dewi Siti Sujinah, kakak dari Sunan Kudus. Karena
itu hubungan keluarga antara Sunan Muria dengan Sunan Kudus adalah saudara ipar.
Beliau seorang ahli tasauf dan beliau didampingi oleh putranya Raden Santri.
Para wali dan ulama menganggap Sunan Muria sebagai sesepuh yang ‘arif dan
sangat dihormati.
Itulah
walisanga, yang merupakan ikatan keluarga di antara para wali, yang
memperlihatkan kepada kita berapa keberhasilan mereka membangun generasi anak
cucu selaku kader-kader penerus untuk kepentingan Islam dan masyarakat. Dan
dalam asal-usul kelahiran atau pengembangan agama Islam dalam arti yang luas.
Secara langsung ataupun tidak langsung mereka tidak terlepas dari Aceh.
Sumber :
Buku Ayah Kami (Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly)
Ternyata Sembilan Wali di Jawa, Ilmu dan Silsilah Keturunannya Berasal Dari Aceh
Posted by SEJARAH ACEH on Saturday, February 25, 2017
Segala puji bagi Allah yang telah menghendaki segala sesuatu terhadap Nabi Muhammad SAW, baik segala keajaiban yang diturunkan oleh-Nya dimasa hidup Rasulullah ataupun hal yang akan terjadi. Inilah salah satu mukjizat dari ratusan mukjizat Nabi kita Muhammad SAW. Terkadang ada mukjizat yang Allah turunkan untuk nabi hanya untuk disaksikan para umat yang hidup dimasa beliau ataupun mukjizat beliau yang dapat dirasakan oleh umat setelahnya, salah satu dari mukjizat ini adalah kepengetahuan Nabi akan masa depan. Tentunya banyak riwayat yang mendukung mukjizat ini sebagai bukti kenabian beliau, baik persaksian yang tertulis didalam al-Qur'an ataupun para sahabat-sahabat beliau.
Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya nabi pernah menyebutkan nama satu wilayah yang kedepan wilayah ini akan menjadi negara islam dan akan banyak memunculkan para ulama dan wali-wali Allah SWT. Nama wilayah ini dalam sebuah hadist nabi yang sampai saat ini belum diketahui sanad dan perawinya adalah "Negri diatas angin" atau disebut "Aceh". Adapun kebenaran berita ini tentunya harus kita teliti lebih mendalam lagi, apalagi siapa dan kapan hadist ini muncul pertama kali tentunya harus diteleti kembali.
Akan tetapi walaupun pada kenyataan bahwa hadist nabi mengenai Aceh tersebut masih belum dijadikan istidlal hukum namun dari beberapa riwayat cerita dan pendapat beliau-beliau mengenai apakah aceh ini benar pernah disebut-sebut oleh Nabi sebagai negri diatas angin menjadi pendukung barang bukti bagi hadist nabi tersebut menjadi hal yang harus kita terima. Karena sesungguhnya pun para ulama dan wali Allah adalah orang-orang yang wajib kita percayai. Dibawah ini akan dijelaskan sedikit bukti-bukti pendukung bahwa Aceh memang pernah disebutkan oleh Nabi sebagai negri para wali Allah.
Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah hadist ini betul adanya atau memang hanya sebuah kalimat warisan turun temurun dari nenek moyang bangsa melayu ?
Membuktikan keberadaan hadist ini dapat dubuktikan melalui beberapa bukti yang ada terdapat dibawah ini :
Rasulullah SAW, pernah bersabda :
“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (menyediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu“….
Pertama : Status Hadist Dalam Beberapa Hikayat Lama Aceh
Di beberapa riwayat kitab dan menurut pendapat ahli sejarawan, termasuk salah seorang ahli sejarawan berkebangsaan indonesia yang tinggal di malaysia, bernama Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction” menyebutkan bahwa keberadaan hadist nabi tentang aceh tersebut betul adanya. Beliau menemukan hadist ini dari beberapa naskah lama kerajaan aceh dan malaysia yang juga pernah tertuliskan hadist ini didalamnya. selain itu akuan keberadaan hadist ini juga disebutkan dibeberapa buku karya sejarah melayu.
Kedua : Bukti Melalui Sejarah
Menurut para ahli sejarah melayu mengatakan, bahwa hadist yang dimaksudkan oleh Nabi ini tertuju kemasa kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai ini berdiri setelah 600 tahun nabi meninggal dunia. Namun ahli sjearawan berbeda pendapat, bahwa aceh sudah dikenal sejak paertama kali islam mulai masuk ke aceh pada abad ke 7. Menurut riwayat bahwa Masa sahabat Umar bin Khattab, penyebaran islam keseluruh dunia sudah dimulai, hingga masuk ke jalur ujung sumatra, yaitu Aceh. Pendapat ini didapat dari buku Aceh Sepanjang Abad, karya M. Said.
Bukti lain dapat dilihat dari salah seorang ulama yang bernama Syeikh Rukunuddin di Barus (Fansur) adalah salah seorang sahabat Nabi yang telah lama tinggal di sumatra atau aceh.
Bukti sejarah lain juga dapat dilihat dari perkembangan islam yang telah menyebar ke beberapa wilayah dimana rasulullah baru saja meninggal. seperti contohnya sahabat Rasulullah yang bernama Sa'ad bin Abi Waqash, yang ditugaskan oleh nabi untuk menyebarkan islam kebeberapa wilayah. Namun dimasa Rasulullah wafat beliau terus menyebarkan islam keseluruh tanah arabia hingga cina dan meninggal disana. Pergerakan penyebaran islam ini sama artinya bahwa islam bukan hanya turun ke cina namun ke beberapa tempat yang menjadi jalur perjalanan sahabat Sa'ad bin Abi Waqash untk ke cina. Maka dapat disimpulkan aceh disaat itu juga menjadi arah jalan penyebaran islam.
Ketiga : Bukti secara Geografis
Masyarakat Quraish dimasa itu tidak hanya berhubungan politik dan ekonomi dengan beberapa suku atau wilayah disekitarnya, namun mereka juga berhubungan dengan bangsa lain, baik persia dimasa itu atapun cina. hal ini dapat dibuktikan saat Hindun (Istri dari paman Nabi Muhammad, Abu Sufyan) pernah membeli sehelai kain dari tenunan bangsa cina.
Sepertimana yang telah dijelaskan diatas bahwa dimasa khalifah rasyidin berdiri sahabat Sa'ad bin Abi Waqash telah menyebarkan islam ke cina. Untuk menuju kesini beliau dan beberapa sahabat setelahnya membutuhkan jalur perjalanan dekat untuk menuju kesana. Salah satunya adalah melalui jalur laut, jalur laut ini menjadi arah paling mudah untuk dituju. Karena melalui darat tentu berbagai macam rintangan seperti melalui padang pasir dan bahan-bahan makanan serta minuman yang dibutuhkan juga banyak dibutuhkan, oleh karenanya dahulu orang arab menyebarkan islam melalui jalur laut.
Secara Geografis, peta cina berada di ujung sebelah kanan tanah arab, maka untuk menuju kesana harus melalui laut, dan melalui laut tentu harus melewati beberapa tempat persinggahan, yaitu india dan ujung sumatra. Maka dapat dipastikan Sa'ad bin Abi Waqash tidaklah sendiri ia membuat perjalanan ini namun beliau membawa para sahabat dan umat islam lainnya, sudah barang pasti persinggahan untuk menuju ke cina salah satunya adalah Ujung Sumatra, atau Aceh. Untuk itu islam secara tidak langsung juga sudah mulai masuk di aceh.
Keempat : Hikayat dari Para Ulama dan Wali
salah satu bukti bahwa hadist tersebut betul ada adalah melalui cerita atau hikayat para ulama dan wali-wali Allah SWT. Kita tentunya wajib mempercayai hikayat ini karena memang pada hakikatnya melawan ulama dan para wali adalah perbuatan dosa, karena mereka adalah hamba-hamab Allah yang dijaga oleh-Nya. Salah satu cerita yang pernah penulis dengar adalah sebuah hikayat yang pernah diceritakan oleh seorang wali Allah yang tidak boleh disebutkan namanya. Beliau adalah salah seorang wali Aceh. Kisah ini saya dapatkan dari cerita seorang anak alm. Abuya Jamaluddin Waly, bahwa beliau pernah berjumpa dengan wali Allah ini, Wali Allah tersebut bercerita :
"Bahwa dahulu Nabi SAW saat berjalan menuju ke Baitul Maqdis dalam Isra Miraj-nya, beliau mengendarai Buraq ditemani oleh Malaikat Jibril untuk keliling dunia (Dalam sejarah hanya dijelaskan bahwa nabi langsung menuju ke Baitul Maqdis). Saat nabi keliling dunia tersebut itulah nabi melihat ada satu cahaya yang terus terbit dari salah satu wilayah di dunia, cahaya ini timbul dari ujung Sumatra, yaitu Aceh. Saat itulah nabi meminta turun kepada jibril untuk melihat keindahan cahaya tersebut, dan nabi pun turun kesana untuk melihat. Lalu rasulullah bertanya kepada jibril "Mengapakah tempat ini bercahaya, wahai Jibril ?", Jibril menjawab " Ini adalah wilayah islam yang suatu saaat nanti Allah akan memunculkan dari kalangan umatmu banyak para wali Allah dan Ulama-ulama besar". lalu nabi pun berangkat kembali untuk menuju ke baitul maqdis. Beliau tidak pernah turun ketempat lain saat perjalanan ini terjadi kecuali hanyalah tempat bercahaya tersebut. "Jika engkau (untuk Amri Jamaluddin Waly, yang mempunyai cerita ini) ingin mengetahui bukti secajarah ini maka ziarahlah ke 8 wali di seluruh aceh maka engkau pasti akan menemukannya".
Inilah cerita yang penulis dapatkan. Karena kejadian inilah yang menjadi asbabul wurud (sebab hadirnya) haidts nabi mengenai Aceh.
Kisah ini diakui oleh beberapa ulama Aceh, termasuk Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly, Abu Muhammad Amin Blang Blahdeh, Abu Ibrahim Woyla, dan beberapa pengakuan ulama dan wali Allah lainnya.
Kelima : Banyak Kerabat Nabi SAW di Aceh
![]() |
| Abu Ibrahim Woyla |
| Abuya Muda Waly |
Nama Abdullah disebut dalam ikhtisar Radja Jeumpa oleh Ibrahim Abduh yang disadurnya dari Hikayat Radja Jeumpa. Tersebutlah sebelum kedatangan Islam di daerah Jeumpa sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah. Tibalah seorang saudagar muslim keturunan Arab bernama Abdullah di sana pada awal abad ke 8 Masehi. Selanjutnya Abdullah tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Dia dinikahkan dengan putri Raja bernama Ratna Kumala. Akhirnya Abdullah dinobatkan menjadi Raja menggantikan bapak mertuanya. Dan masih banyak lagi.
Keenam : Persahabatan antara Aceh dan Arab
Semenjak tersebarnya islam di aceh yang dimulai pada abad ke-7 hingga akhir masa kerajaan pada tahun 1880-an, hubungan aceh dan arab sangatlah erat. Tidak hanya sisi ekonomi namun dalam hal agama jugalah menjadi patokan penting untuk saling berkomunikasi dan meminta pendapat antar kedua negara tersebut. Hal ini dapat dibuktikan di salah satu wilayah masjidil haram terdapat harta tanah waqaf yang disumbagkan oleh aceh untuk perluasan masjidil haram. Salah satunya terletak di daerah Qusyasyiah bertepatan dengan bab al-Fath Masjidil Haram, Lokasi ini berada seperti hotel Ajyad (Funduk Ajyad) bertingkat 25 dan Menara Ajyad (Burj Ajyad) bertingkat 28 yang berjarak sekitar 500-600 meter dari Masjidil Haram. Kedua hotel tersebut mampu menampung lebih dari 7.000 jamaah yang dilengkapi dengan infrastruktur lengkap. Wakaf tersebut semakin bertambah dengan pembelian beberapa aset lagi. Hasil sumbangan, sedekah, dan infak hujjaj Aceh diwakafkan dalam bentuk tanah dan rumah di seputar Masjidil Haram tersebut yang dikoordinir oleh Habib Bugak sekitar tahun 1224 H/ 1809 M.
Sebagian berpendapat bahwa nama asli Habib Bugak adalah Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi dari Monklayu. Sebagian lagi menyebut ia berasal dari daerah Bugak di Aceh Timur, Bireuen atau Pidie. Sulitnya informasi tersebut diakibatkan tidak ada bukti tertulis secara komprehensif. Melalui lembaran sarakata (surat Sultan) Aceh yang saya peroleh, tertera stempel kesultanan yang menunjukkan originalitasnya. Disebutkan bahwa ia bernama Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Alwi Peusangan, yang diberi kuasa pengelolaan tanah di wilayah Mutiara di sebelah barat Blang Pancang hingga Krueng Air sebelah timur dan hingga perbatasan Krueng Geukueh.
Keenam : Persahabatan antara Aceh dan Arab
Semenjak tersebarnya islam di aceh yang dimulai pada abad ke-7 hingga akhir masa kerajaan pada tahun 1880-an, hubungan aceh dan arab sangatlah erat. Tidak hanya sisi ekonomi namun dalam hal agama jugalah menjadi patokan penting untuk saling berkomunikasi dan meminta pendapat antar kedua negara tersebut. Hal ini dapat dibuktikan di salah satu wilayah masjidil haram terdapat harta tanah waqaf yang disumbagkan oleh aceh untuk perluasan masjidil haram. Salah satunya terletak di daerah Qusyasyiah bertepatan dengan bab al-Fath Masjidil Haram, Lokasi ini berada seperti hotel Ajyad (Funduk Ajyad) bertingkat 25 dan Menara Ajyad (Burj Ajyad) bertingkat 28 yang berjarak sekitar 500-600 meter dari Masjidil Haram. Kedua hotel tersebut mampu menampung lebih dari 7.000 jamaah yang dilengkapi dengan infrastruktur lengkap. Wakaf tersebut semakin bertambah dengan pembelian beberapa aset lagi. Hasil sumbangan, sedekah, dan infak hujjaj Aceh diwakafkan dalam bentuk tanah dan rumah di seputar Masjidil Haram tersebut yang dikoordinir oleh Habib Bugak sekitar tahun 1224 H/ 1809 M.
Sebagian berpendapat bahwa nama asli Habib Bugak adalah Habib Abdurrahman bin Alwi al-Habsyi dari Monklayu. Sebagian lagi menyebut ia berasal dari daerah Bugak di Aceh Timur, Bireuen atau Pidie. Sulitnya informasi tersebut diakibatkan tidak ada bukti tertulis secara komprehensif. Melalui lembaran sarakata (surat Sultan) Aceh yang saya peroleh, tertera stempel kesultanan yang menunjukkan originalitasnya. Disebutkan bahwa ia bernama Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Alwi Peusangan, yang diberi kuasa pengelolaan tanah di wilayah Mutiara di sebelah barat Blang Pancang hingga Krueng Air sebelah timur dan hingga perbatasan Krueng Geukueh.
Ketujuh : Keturunan Bangsa Aceh di Arab Saudi
Hubungan yang cukup erat antara Arab dan Aceh dibuktikan juga dengan terdapatnya garis keturunan bangsa aceh yang sebahagiannya adalah keturunan nabi di sekitaran masjidil arab dan dibeberapa wilayah arab lainnya. Salah satu contohnya seperti Syeik Abdul Ghani Asyi yang pernah menjabat sebagai ketua Bulan Sabit Merah Timur Tengah, kemudian Alm. Dr. Jalal Asyi, mantan ketua mentri kesehatan Arab Saudi, DR. Ahmad Asyi, ia pernah menjabat sebagai Mentri Haji dan Waqaf dan beberapa orang lainnya. yang disebutkan ini adalah sebahagiannya saja dan hanya orang-orang yang berada di pemerintahan, namun keturunan lainnya masih banyak terdapat di beberapa wilayah timur tengah sana yang tidak kita ketahui.
Diriwayatkan bahwa pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17 mengirim duta besarnya ke timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mareka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung katung di Delhi India. Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M). Sampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan. Namun, karena sosok Sultanah Zakiatuddin yang ‘alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968).
Utusan Arab sangat gembira diterima olehSri Ratu Zakiatuddin, karena mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New Delhi, India. Bahkan empat tahun mareka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb. Ketika mereka pulang ke Mekkah, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, memberi mareka tanda mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.
Pada tahun 1094 (1683 M) mareka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 H (September 1683 M). Dua orang bersaudara dari rombongan duta besar Mekkah ini yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh yang dalam anti raja perempuan (Jamil: 1968). Mereka dibujuk untuk tetap tinggal di Aceh sebagai orang terhormat dan memberi pelajaran agama dan salah satu dari mereka, kawin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah. Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah wafat tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098H (3 Oktober 1688 M). Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan kerajaan Aceh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja).
Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam senin 23 Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah(1641-1675M), terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah tiba. Menurut sejarah, “fatwa import” ini tiba dengan “jasa baik” dari golongan oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan Syarif dari Mekkah, yakni suami Ratu Kemalatsyah, Syarif Hasyim menjadi raja pada hari Rabu 20 Rabi`ul Akhir 1109 H (1699M). Menurut sejarah, Ratu tersebut dimakzulkan akibat dari “fatwa import” tersebut. Lalu kerajaan Aceh memiliki seorang pemimpin yang bergelar Sultan Jamalul Alam Syarif Hasyim Jamalullail (1110-1113 H/1699-1702M). dengan berkuasanya Syarif Hasyim awal dari dinasti Arab menguasai Aceh sampai dengan tahun 1728 M. Inilah bukti sejarah bahwa kekuasaan para Ratu di Aceh yang telah berlangsung 59 tahun hilang setelah adanya campur tangan pihak Mekkah, paska para ratu ini menyumbang emas ke sana. Aceh yang dipimpin oleh perempuan selama 59 tahun bisa jadi bukti bagaimana sebenarnya tingkatemansipasi perempuan Aceh saat itu (Azyumardi Azra, 1999).
Terkait dengan sumbangan emas yang diberikan oleh Ratu kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah. Disebutkan bahwa sejarah ini tercatat dalam sejarah Mekkah dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman Sultanah Aceh tiba di Mekkah di bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu Syarif Barakat telah meninggal. Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa’id Barakat (1682-1684 M).
Snouck Hurgronje, menuturkan “Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Pada Tahun 1683” sempat kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, dimana sewaktu dia tiba di Mekkah pada tahun 1883. Karena Kedermawaan Bangsa dan Kerajaan Aceh masa itu, Masyarakat Mekkahmenyebut Aceh Sebagai "Serambi Mekkah" di sana. Ternyata sumbangan Kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih selalu hangat dibicarakan disana. Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin sedangkan sisanya diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Begitu juga tradisi wakaf orang Aceh di tanah Arab sebagai contoh tradisi wakaf umum, ialah wakaf habib Bugak Asyi yang datang ke hadapan Hakim Mahkmah Syariyah Mekkah pada tanggal 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H. Di depan hakim dia menyatakan keinginannya untuk mewakafkan sepetak tanah dengan sebuah rumah dua tingkat di atasnya dengan syarat; rumah tersebut dijadikan tempat tinggal jemaah haji asal Aceh yang datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dan juga untuk tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah untuk naik haji maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri, mahasiswa) Jawi (nusantara) yang belajar di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa dari Nusantara pun tidak ada lagi yang belajar di Mekkah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Mekkah yang belajar di Masjid Haram. Sekiranya mereka ini pun tidak ada juga maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjid Haram.
Menurut sejarah, sebenarnya bukan hanya wakaf habib Bugak yang ada di Mekkah, yang sekarang hasilnya sudah dapat dinikmati oleh para jamaaah haji dari Aceh tiap tahunnya lebih kurang 2000 rial per jamaah. Peninggalan Aceh di Mekkah bukan hanya sumbangan emas pada masa pemerintahan ratu ini juga harta harta wakaf yang masih wujud sampai saat ini seperti :
Wakaf Syeikh Habib Bugak Al Asyi',
Wakaf Syeikh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat No. 324) di Qassasyiah,
Wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng),
Wakaf Muhammad Abid Asyi,
Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi,
Wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina,
Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina,
Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina,
Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah,
Rumah Wakaf di Taif,
Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al-Hijrah Mekkah.
Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al-Raudhah, Mekkah,
Rumah Wakaf di kawasan Al Aziziyah, Mekkah.
Wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya.
Rumah wakaf Syech Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah,
Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.
Inilah bukti bagaimana generous antara ibadah dan amal shaleh orang Aceh di Mekkah.Mereka lebih suka mewakafkan harta mereka, ketimbang dinikmati oleh keluarga mereka sendiri. Namun, melihat pengalaman Wakaf Habib Bugak, agaknya rakyat Aceh sudah bisa menikmati hasilnya sekarang.
Fenomena dan spirit ini memang masih sulit kita jumpai pada orang Aceh saat ini, karena tradisi wakaf tanah tidak lagi dominan sekali. Karena itu, saya menganggap bahwa tradisi leluhur orang Aceh yang banyak mewakafkan tanah di Arab Saudi perlu dijadikan sebagai contoh tauladan yang amat tinggi maknanya. Hal ini juga dipicu oleh kejujuran pengelolalaan wakaf di negeri ini, dimana semua harta wakaf masih tercatat rapi di Mahkamah Syariah Saudi Arabia.
Sebagai bukti bagaimana kejujuran pengelolaan wakaf di Arab Saudi, Pada tahun 2008 Mesjidil haram diperluas lagi kekawasan Syamiah dan Pasar Seng. Akibatnya ada 5 persil tanah wakaf orang Aceh terkena penggusuran. Tanah wakaf tersebut adalah kepunyaan Sulaiman bin Abdullah Asyi, Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan), Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga), Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi. Di Mekkah juga penulis sempat bertemu dengan Saidah Taliah Mahmud Abdul Ghani Asyi serta Sayyid Husain seorang pengacara terkenal di Mekkah untuk mengurus pergantian tanah wakaf yang bersetifikat no 300 yang terletak di daerah Syamiah yang terkena pergusuran guna perluasan halaman utara Mesjidil haram Mekkah al Mukarramah yang terdaftar petak persil penggusuran no 608. Yang diwakafkan oleh Syech Abdurrahim Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) dan adiknya Syech Abdussalam Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga).
Memang pada asalnya 75 persen tanah di sekitar Mesjidil Haram adalah tanah wakaf apakah itu wakaf khusus atau wakaf umum. Dan sebagiannya ada milik orang orang Aceh dulu dan ini bagian dari kejayaan Aceh yang pernah masuk dalam 5 besar negeri Islam di dunia bersama Turki, Morroko, Iran, Mughal India dan Aceh Darussalam di Asia tenggara. Menurut peraturan pemerintah Saudi Arabia para keluarga dan nadhir dapat menuntuk ganti rugi dengan membawa bukti kepemilikan (tentu memerlukan proses yang lama ie menelusuri siapa nadhir tanah wakaf tersebut, penunjukan pengacara dll) dan bisa menghadap pengadilan agama Mekkah menutut ganti rugi dan penggantian dikawasan lain di Mekkah sehingga tanah wakaf tersebut tidak hilang. Kalau seandainya tidak ada keluarga pewakaf lagi khusus untuk wakaf keluarga maka sesuai dengan ikrar wakaf akan beralih milik mesjidil haram atau baital mal. Inilah pelajaran atau hikmah tradisi wakaf di Mekkah yang semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan wakaf di Aceh.
Mekkah Tempo Dulu
Itulah secuil catatan yang tercecer, tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi sekarang hanya mengenal bahwa Aceh adalah Serambi Mekkah. Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur Tengah. Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi materi, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan wakaf yang masih bisa ditelusuri hingga hari ini.
Karena itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktikkan oleh orang Aceh saat itu, dimana “tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah”. Akibatnya, kehormatan orang Aceh sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Dalam hal ini, harus diakui bahwa Snouck telah “berjasa” merekam beberapa akibat dari episode sejarah kehormatan orang Aceh.
Inilah pelajaran penting bagi peneliti sejarah Aceh, dimana selain bukti-bukti otentik, sejarah juga bisa ditulis melalui oral history (sejarah lisan). Pelajaran ini sangat penting bagi generasi sekarang untuk melacak dimana peran orang Aceh di beberapa negara, termasuk di Timur Tengah.
Inilah sekelumit hasil muhibbah saya ke Arab Saudi dan saya benar-benar terkesima dengan pengakuan identitas "Asyi" dan pola pengelolaan wakaf di Arab Saudi. Selain ini, di dalam perjalanan ini, saya sempat berpikir apakah nama baik orang Aceh di Arab Saudi bisa sederajat dengan nama baik Aceh di Indonesia dan di seluruh dunia. Yang menarik adalah hampir semua negara yang saya kunjungi, nama Aceh selalu dihormati dan dipandang sebagai bagian dari peradaban dunia.
Inilah beberapa bukti bahwa sebenarnya bahwa walaupun sanad hadist ini tidak disebutkan dari beberapa bukti diatas telah menunjukkan bahwa terdapat sisi kesinambungan bukti bahwa Rasullah pernah menyebutkan bahwa Aceh ini adalah negara islam dan tempat dimana banyak para wali dan ulama Allah muncul. Dan memang terbukti bahwa sekrang saja di aceh banyak para ulama yang muncul, mulai dari Hamzah fansuri, Syeikh Kuala hingga Abuya Muda Waly dan murid-muridnya hingga sekarang saat ini. Itulah sebabnya mengapa aceh disebut Serambi Mekkah, kerena jika ibarat Masjidil Haram, Kakbahnya adalah di Makkah maka teras menuju ke Kakbah adalah Acehnya.
Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan referensi kita sebagai orang aceh yang selalu cinta kepada para wali Allah dan ulama-ulama-Nya juga negri tanah air ini.
Penulis :
Tgk. Habibie M. Waly S.TH
Didapat dari berbagai referensi
Didapat dari berbagai referensi
Inilah Bukti Bahwa Rasulullah SAW Pernah Menyebut Nama Aceh
Posted by SEJARAH ACEH on Friday, February 24, 2017
![]() |
| Kitab Hikayat Perang Sabi. Karya : Teuku Chik Pante Kulu |
Karena HPS inilah pihak belanda saat itu kewalahan menghadapi kebrutalan dan semangatnya mujahidin aceh dalam menegakkan bendara Allah kembali di bumi aceh ini, sehingga saat itu belanda mencoba mencari alasan mengapa orang aceh sangat sulit untuk ditaklukan, bagimana tidak belanda menjajah aceh hampir 2 setengah abad lebih, sampai mereka menyebut aceh dengan sebutan "Aceh Pungo", aceh gila, karena saat itu belanda melihat ternyata para mujahidinnya bukan dari kalangan laki-laki saja, namun para wanita juga ikut membantu memperjuangkan nanggro aceh saat itu.
Hingga disuatu hari pihak belanda menemukan jawaban mengapa aceh saat itu sangat sulit untuk ditaklukkan, jawabannya ada pada Hikayat Perang Sabi. Inilah senjata bathin rakyat aceh yang dinilai belanda merupakan senjata paling kuat dari senjata yang ada pada saat itu. Saat itulah HPS ini mulai dicari dan siapapun yang menemukan tulisan yang ditulis oleh Teuke Chik Pante Khulu tersebut dibayar dan selanjutnya dibakar.
Begitu besarnya Aceh saat itu, Aceh dahulu mempunyai rantai sejarah yang terus berputar sampai hari akhir nanti. Salah satunya adalah Pengaruh Serontaknya Mujahidin dari kekuatan Hikayat Perang Sabi Teuku Chik Pante Khulu.
lalu bagaimanakah bunyi dari HPS tersebut, berikut sebahagian kalamnya :
Salam alaikom walaikom teungku meutuah
Katrok neulangkah neulangkah neuwo bak kamoe
Amanah nabi...ya nabi hana meu ubah-meu ubah
Syuruga indah...ya Allah pahala prang sabi
Ureueng syahid la syahid bek ta khun mat
Beuthat beutan...ya Allah nyawoung lam badan
Ban sar keunung la keunung senjata kaf la kaf
Keunan datang...ya Allah pemuda seudang
Djimat kipah la kipah saboh bak jaroe
Jipreh judo woe ya Allah dalam prang sabi
Gugur disinan-disinan neuba u dalam-u dalam
Neupuduk sajan ya Allah ateuh kurusi
Ija puteh la puteh geusampoh darah
Ija mirah...ya Allah geusampoh gaki
Rupa geuh puteh la puteh sang sang buleuen trang di awan
Wat tapandang...ya Allah seunang lam hatee
Darah nyang ha-nyi nyang ha-nyi gadôh di badan
Geuganto le tuhan...ya Allah deungan kasturi
Di kamoe Aceh la Aceh darah peujuang-peujuang
Neubi beu mayang...ya Allah Aceh mulia
Subhanallah wahdahu wabi hamdihi
Khalikul badri wa laili adza wa jalla
Ulon peujoe poe sidroe poe syukur keu rabbi ya aini
Keu kamoe neubri beusuci Aceh mulia
Tajak prang meusoh beureuntoh dum sitre nabi
Yang meu ungkhi ke rabbi keu poe yang esa
Soe nyang hantem prang chit malang ceulaka tubuh rugoe roh
Syuruga tan roeh rugoe roh bala neuraka
Soe-soe nyang tem prang cit meunang meutuwah teubuh
Syuruga that roeh nyang leusoeh neubri keugata
Lindong gata sigala nyang muhajidin mursalin
Jeut-jeut mukim ikeulim Aceh mulia
Nyang meubahagia seujahtera syahid dalam prang
Allah peulang dendayang budiadari
Oeh kasiwa-sirawa syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamông syuruga tinggi
Budiyadari meuriti di dong dji pandang
Di cut abang jak meucang dalam prang sabi
Oh ka judo teungku syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi
"Hikayat Perang Sabi", Senjata Yang Paling Ditakuti Belanda dari Aceh
Posted by SEJARAH ACEH on Thursday, January 12, 2017
Pada permulaan tahun 1951 terbentuklah Propinsi Sumatra Utara, dan Tapanuli. Dan kota Medan, dijadikan sebagai pusat pemerintahan Propinsi itu. Karena itu, maka berlakunya tindakan pemerintahan Pusat yang menurut Teungku Muhammad Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya di sana, menyebabkan kegelisan pada mereka sebagai orang-orang PUSA. Ini merupakan puncak motivasi di atas, dan penyebab meletusnya pemberontakan Daud Beureuh pada tanggal 21 September 1953.
Di samping adanya latar belakang yang begitu serius, sehingga menimbulkan pemberontakan di atas, ada hal lain yang harus diperhatikan, timbulnya pemberontakan itu begitu cepat dengan persiapan yang belum matang. Hal ini karena desakan keadaan, sehingga harus bertindak cepat. Inilah salah satu sebab terpenting, yang menyebabkan kegagalan pemberontakan tidak seperti yang diharapkan. Sehingga Aceh tidak bersatu dalam pemberontakan itu, apalagi sebagian ulama penting di Aceh, termasuk ayah, tidak diberitahu sama sekali tentang tekad yang terpaksa dilakukan untuk memberontak kepada Pemerintah Pusat.
Setelah beberapa orang Ulama besar di Aceh, antara lain Teungku Haji Hasan Krueng Kalee, ayahku Teungku Syeikh Muhammad Waly, Teungku Abdussalam Meuraxa, Teungku Saleh Meusigit Raya dan lain-lain tidak berpihak kepada gerakan yang dipimpin oleh Daud Beureuh, karena mereka mengetahui bahwa sebab tersebut diatas bukanlah hal yang dikaitkan dengan agama tetapi hal yang berkaitan dengan dunia semata-mata, maka akhirnya mereka mengeluarkan fatwa itu adalah atas nama ulama besar di atas.
Oleh karena mereka secara kebetulan di dalam PERTI, maka yang lebih banyak dilihat atas nama PERTI. Padahal PERTI tidak lebih sekedar wadah Ahlusunnah wal Jama’ah, dan tanpa PERTI pun pendirian mereka di atas adalah pendirian keagamaan berdasarkan kitab hukum Islam yang selama ini dipegang oleh para ulama Aceh pada khususnya dan para ulama Islam Indonesia pada umumnya.
Para ulama tersebut menganggap pemberontakan itu sebagai golongan yang dalam istilah hukum Islam disebut dengan “Al-Bughah”, yakni orang-orang yang menentang pemerintah sah dengan jalan memberontak, dan tidak mentaati pemerintahannya. Atau dengan jalan menghabat pelaksanaan undang-undang dan peraturan yang berhubungan dengan kepentingan umum.
| alm. Abuya Prof. Dr. Teungku Chiek, H. Muhibbuddin Muhammad Waly Al-Khalidy |
Adapun pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa para ulama di atas bermusuhan dengan Teungku Muhammad Daud Beureuh, sehingga seolah-olah memusuhi beliau, adalah tidak benar. Tidak pernah aku mendengar, bahwa ayah (Abuya Muda Waly) mencela Teungku Muhammad Daud Beureuh. Tetapi ayah sangat menyesalkan mengapa tidak sejak pertama Teungku Muhammad Daud Beureuh bermusyawarah menurut Hukum Islam dengan para ulama, mengenai masalah yang dihadapi Aceh agar cita-cita Aceh tercapai tanpa pertumpahan darah. Jangan ada prasangka bahwa fatwa ulama di atas seperti sudah direkayasa sebelumnya dengan orang BKR selaku wadah dari orang-orang feodal itu. Tetapi setelah fatwa yang demikian dikeluarkan para ulama di atas, yang merupakan tanggung jawab terhadap Allah, barulah orang-orang BKR memanfaatkan fatwa itu untuk menghantam gerombolan Teungku Muhammad Daud Beureuh. Ini urusan mereka dan para ulama besar di atas tidak mau tahu dengan keadaan itu.
Sumber :
Buku Ayah Kami (Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly)
Abuya adalah seorang yang kasyaf. Kasyaf adalah tersingkapnya hakikat-hakikat atau rahasia-rahasia ketuhanan, setelah menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepadanya.[1]
Pada suatu ketika Abuya sedang mengajar di Raudhah Riyahin, tiba-tiba Abuya tersenyum (hampir seperti ketawa). Raudhah Riahin adalah sebuah kebun bunga yang terletak tidak jauh dari Baitut Ta’lif, sebelah selatan dari menara dan menara ini berdiri sebelah selatan makam Abu Syik Haji Muhammad Salim, Salim orang tua Abuya sendiri. Raudhah ini berukuran 3x4 meter persegi yang ditanami sekililingnya bunga-bunga lamping. Disinilah para tamu yang ingin bertemu dengan Abuya dapat langsung menemui beliau di siang hari menjelang waktu shalat ashar.[2]
Murid beliau yang melihat keadaan demikian, bertanya kenapa beliau tersenyum padahal tidak ada sesuatu yang lucu yang membuat hadirin merasa dikocok isi perutnya. Abuya berkata :
“Ada seorang laki-laki dari meukek sedang menuju ke Darussalam untuk mengaqiqahkan dua ekor kambing dan daun sirih yang di isi dalam raga untuk diberikan kepada Abuya. Ditengah jalan orang ini merasa hendak buang air kecil, iapun melangkah kesemak-semak untuk qadha hajatnya. Sedangkan kambing tadi di ikatlah pada sepedanya. Saat ia melaksanakan qadha hajatnya tiba-tiba kambing itu memakan sirih yang ia bawa sehingga ia menjadi bingung mau pilih mana menghalau kambing atau melanjutkan buang air, akhirnya orang itu melakukan kedua-duanya (sambil buang air ia mengejar dan menghalau kambingnya).
Ternyata itulah yang membuat Abuya tersenyum. Setelah sampai ke Darussalam orang itu ditanyai dari mana asalnya dan apa yang terjadi di perjalanan. Orang itu pun bercerita persis apa yang diceritakan Abuya sebelumnya.[3]
[1] Kamus Al-Munjid, Hal. 687
[2] Abu Keumala, Wadzifah Ibadah dan Pengembangan Ilmu Keagamaan hari-harian Abuya Syeikul Islam Aceh Maulana Syeikh Haji Muda Waly AL-Khalidy, (Media Dakwah Santri Dayah, 2010). Hal 5
[3] Sumber : Abuya Teungku Haji Ruslan Waly dan Wawancara dengan Teungku Khalifah Bilalian Blang Poroh 12 Desember 2012.
Sumber :
Buku Ayah Kami (Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly)
BREAKING NEWS :
Loading...












